Perjalanan itu akan terus berlangsung kawan, entah dimana jalan itu akan berakhir. Terkadang jejak itu terhapus angin yang membawa debu, terkadang oleh hujan yang menyegarkan. Hanya saja kita harus menentukan kapan waktu untuk berhenti dan kapan waktu untuk berdiri

GUNUNG WELIRANG

Tanggal 29 Januari 2010 tepatnya pukul 20.30 WIB, setelah persiapan yang kurasakan lengkap, kami bertiga pun bergegas meninggalkan sibuknya kota Surabaya menuju Gunung Welirang. Gunung Welirang adalah gunung yang masih aktif dengan kawah yang selalu menghembuskan asap dan cairan belerang. Tinggi gunung ini mencapai 3.156 mdpl.

Dengan tarif Rp 15.000,- per orang, bus siap mengantar dari terminal Bungurasih Surabaya menuju terminal Pandaan dengan jarak tempuh sekitar 1 jam 15 menit itupun bila lalu lintas lancar. Tiba di terminal Pandaan kami masih harus menunggu colt L300, angkutan yang bertugas mengantarkan kami menuju pos PHPA Tretes yang terletak di belakang hotel Surya. Tampaknya keberangkatan kami dari Surabaya terlalu malam, karena sudah lama sejak kedatangan kami angkutan itu tak jua menampakkan bampernya. Meskipun disana banyak sekali tukang ojek yang siap mengantarkan kami.

Kebosanan pun melanda kami, sampai akhirnya ada seorang yang belum terlalu tua menawarkan kami untuk naik Suzuki Forza ’86 miliknya. Setelah negosiasi kami sepakat untuk mengakhiri penawaran dengan tarif Rp 40.000,-. Padahal tarif colt hanya Rp 5.000,- per orang dan tarif ojek Rp 10.000,- per orang. Tapi tak apalah yang penting punggung kami bisa enjoy. Dan perjalanan pun hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk sampai pos PHPA Tretes.

Tempat pendaftaran berada di pinggir jalan raya, tepatnya di seberang hotel Tanjung. Disini kami membayar biaya pendaftaran Rp.4.100,- untuk mendapatkan ijin pendakian. Setelah mendapatkan ijin pendakian, kami pun bergegas. Suasana lingkungan yang bersih dan sejuk menyapa kami dibalik pohon-pohon besar, ditambah lagi jalanan yang masih tampak basah setelah siraman hujan yang mengguyur tempat ini. Disini jalur masih sangat rapi dengan aspal dan kemiringan yang sangat tajam, sehingga bisa dijadikan pemanasan pendakian yang cukup menguras nafas dan tenaga. Setelah berjalan sekitar 45 menit sampailah kami di Bumi Kemah Pet Bocor dimana telah terdapat beberapa tenda lengkap dengan penghuninya. Terdapat pula sumber air yang berasal dari pipa-pipa saluran air yang bocor. Dan warung makanan yang penjualnya biasa dipanggil “Emak” oleh para pendaki. Dari sini langkah kami pun terhenti untuk sekedar tidur.

Keesokan hari setelah ISHOMA, perjalanan pun kami lanjutkan dengan menyusuri jalanan berbatu yang tertata rapi, tetapi merupakan siksaan tersendiri untuk perjalanan turun. Dengan kondisi alam yang terbuka, jarang terdapat pohon, dan dikiri kanan jalan hanya ditumbuhi alang-alang dan ditanami pisang untuk mengatasi alang-alang. Di sepanjang jalur pendaki akan disuguhi pemandangan ke arah Tretes dan gunung Penanggungan yang sangat indah.

Setelah berjalan sekitar 3-4 jam akhirnya kami sampai di Pos Kop-kopan. Disini terdapat sungai kecil yang airnya cukup melimpah. serta dilengkapi dengan MCK sederhana. Tapi tak berlangsung lama hujan yang cukup deras menyambut kedatangan kami, hingga akhirnya memaksa kami untuk berteduh di sebuah warung yang saat itu kutemui tanpa penjaga. Hawa dingin khas daerah pegunungan pun semakin menjalar ke seluruh tubuhku. Sambil menunggu redanya hujan kami pun membuat minuman yang cukup bisa menghangatkan tubuh kami.

Setelah hujan reda perjalanan kami lanjutkan menuju Pos Pondokan. Jalur berupa jalan berbatu yang terjal sehingga sangat menguras tenaga. Belum genap tujuan kami, lagi-lagi hujan ditambah kabut kembali mewarnai perjalanan kami. Hingga akhirnya salah seorang dari kami memutuskan membuka tenda untuk berteduh dan bermalam di satu tempat yang cukup datar.

Keesokan hari perjalanan kami lanjutkan setelah ISHOMA pastinya. Pendakian hari ini cukup nyaman karena banyak terdapat pohon-pohon besar di sepanjang jalur pendakian dan kicau burung semakin memberi arti bahwa maha besarnya Allah Ta’ala. Waktu yang kami tempuh untuk menuju Pos Pondokan sekitar 4-5 jam. Tiba di pos hujan menghentikan langkah kami, apalagi ada seorang teman yang mengeluh sedikit meriang. Akhirnya kami putuskan membuka tenda dan bermalam di Pos Pondokan dan berencana melanjutkan perjalanan esok pagi. Benar-benar pendakian yang manja.

Pos Pondokan berupa tanah terbuka yang cukup luas. Terdapat pondok-pondok sederhana yang dibangun oleh para penambang Belerang. Di sebelahnya terdapat sungai dengan debit air yang sangat kecil. Tapi sayang, sumber air ini disalah gunakan karena banyak kotoran-kotoran manusia yang hinggap tidak pada tempatnya. Bagaimanapun sumber air inilah yang terakhir yang bisa dimanfaatkan.

Pagi-pagi benar mataku sudah terbangun oleh dinginnya area ini. Kami pun tak menyia-nyiakan perjalanan yang setengah hati ini untuk segera mencapai tujuan kami yaitu puncak gunung welirang. Setelah 3 jam perjalanan akhirnya puncak welirang menjadi nyata di depanku. Menjelang Puncak Gunung welirang jalur terbagi menjadi dua. Jalur penambang lurus menuju kawah di mana para penambang mengambil belerang. Jalur pendaki ke arah kanan melintasi punggungan yang sangat curam dan berbatu-batu. Nah, disinilah ekstrimnya pendakian yang kusebut rekreasi ini. Menjelang puncak kami mengambil jalur yang biasa di tempuh penambang untuk mengambil belerang, alhasil kami pun tidak menemukan jalan kecuali menyusuri jalan tebing berbatu dimana tepat di sebelah kami merupakan tebing yang mengeluarkan cairan belerang yang berwarna keemasan. Setelah kami letakkan carrier, kami pun mulai menyusuri tebing tersebut tanpa mempedulikan apabila batu yang di atas kami longsor atau tidak.

Alhamdulillah, tepat di kawasan Puncak Gunung Welirang hujan dan kabutlah yang menemani pencapaian kami. Tak sempat menikmati keindahan dari puncak kami kembali untuk mengambil carrier, dan bergegas turun meninggalkan kawasan gunung Welirang dengan jarak tempuh sekitar 7 jam perjalanan untuk sampai ke pos perijinan, itupun sudah termasuk ISHOMA.

Alhamdulillah, Sesungguhnya kematian itu tak akan bisa dimajukan atau diundur meskipun satu detik.


Inilah Rekreasi Ekstrim Menuju Puncak Welirang..hehehehe...

Label: edit post
0 Responses

Poskan Komentar